Menyuluh Tigapuluh.

Selamat malam, Alam Raya.

Semoga tidak terlambat menyambut tahun baru di bulan ketiga. Terlalu banyak hal yang pelan-pelan datang, pertemuan-pertemuan, juga semangat baru yang merasuki ruang diri sehingga rasanya waktu berlalu cukup cepat dan aku masih belum sempat menyapamu sampai hari ini. 

Terimakasih karena membiarkan tahun ini dimulai dengan energi yang baik. Terimakasih sudah membekali tahun ini dengan benih-benih harapan bahwa bertambahnya usia adalah pagar yang menjaga diri dan mengingatkan lagi tentang banyak mimpi. Rasanya banyak sekali kemudahan dan campur tangan Tuhan yang harus disyukuri selama beberapa tahun terakhir, terutama dalam rangka menyuluh tigapuluh—usiaku yang baru.

Terimakasih untuk tenang yang Kau berikan seiring waktu. Mengizinkan masalah yang lama mendekam di jagat fikir diselesaikan oleh organ-organ tubuh yang dibenahi secara perlahan-lahan. Membiarkan rasa takut melebur, keberanian tumbuh subur, juga khawatir yang kini mampu diatur. Entah berapa banyak pinta yang aku lambungkan ke udara dan Kau tunjukkan kuasa-Mu akan jawaban yang perlu aku tahu untuk jelas terlihat di depan mata. 

Aku berhutang banyak sekali untuk terbukanya jalan-Mu atas rencana-rencana yang pernah dituliskan. Kadang tak mampu kepala menarik benang merah atas segala kejadian, dan hati hanya akan tenang ketika menyadari ada cinta-Mu di setiap penghubungnya. Harapku semoga cinta itu menemani setiap langkahku menuju seberang.

Ya, menyeberang dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dalam usaha menyempitkan ruang gerak, namun meluaskan semesta.
Juga mensyukuri segala nikmat-Mu yang tiada terkira.

Selamat malam, Alam Raya. 
Kuharap kau akan terus membiarkanku membaca pertanda.