Aku dan Dia di Tahun Baru.

Dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Ribuan jam yang berlalu di tahun ini terisi banyak cerita. Salah satunya tentang aku dan dia. Dia yang kembali percaya bahwa mimpi nyata adanya. Bahwa harap adalah milik siapa saja. Dia yang kembali menata hati, menuliskan ulang prioritas-prioritas, membuat keputusan dan merubah apa yang perlu. Dia yang kembali bercengkerama dengan dirinya sendiri setelah sekian lama hilang bersamaku di kerumunan yang asing.

Dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Tahun depan menjadi tahun ganjil yang menggenapkan usia, menjadikannya sebuah gerbang baru untuk banyak rencana dan cita-cita sederhana untuk aku dan dia. Dia yang ingin menjalani hidup dalam ritme, tak lagi tergesa-gesa. Dia yang tak ingin lagi terjebak lama dalam rutinitas kota. Dia yang hanya ingin bangun dan tidur dalam ruang yang sama, menyempitkan bidangnya namun meluaskan semesta. Dia yang ingin tak ada sesak di rongga dada setiap lelah menyerangnya. Hidup lebih sehat, juga menjalani hari lebih baik. Satu demi satu, dia hanya ingin menuntunku menjadi aku yang baru.

Aku tidak tahu sejauh apa dia bisa membebaskanku untuk meraih segala kesempatan dan percaya pada keajaiban. Aku tidak tahu pula sekuat apa dia bisa mendamaikanku dengan masa lalu dan membuatku menatap masa depan seutuh harapan yang dibentuk oleh kepingan-kepingan asa. Tapi aku memilih untuk menaruh harapku padanya, senantiasa berbaik sangka bahwa aku bisa jadi lebih baik bersamanya di bagian cerita baru kita berdua.

Ah, dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Begitu banyak kisah yang aku syukuri di tahun ini dan kuharap dia bisa merasakan hal yang lebih baik di tahun berikutnya. Begitu banyak pula pelajaran yang aku simpan untuknya sebagai bekal di kemudian hari. Agar yang buruk tak terulang. Agar yang baik tetap terjaga. Meskipun hidup beririsan dengan banyak sekali ketidaksempurnaan, namun bagiku, segala sesuatu tetap bisa jadi sempurna dengannya.

Saat menuliskan tulisan ini, kondisi fisikku sedang berada dalam titik yang kurang baik. Terbaring hampir seharian menahan apa yang dirasa oleh badan. Sebuah pelajaran di tahun ini bahwa aku dan dia kerap melupakan apa yang merekatkan kami berdua. Sehat kini menjadi yang kami dambakan. Lelah tak seharusnya melemahkan. Letih tak seharusnya melumpuhkan. 

Aku dan dia adalah kesatuan dalam tubuh. Dan semua rencana di kemudian hari tak akan berarti tanpa sehat yang menjadi sebaik-baiknya alat. Maka ini yang ingin aku benahi sesegera mungkin demi dia. Demi dia yang kupercaya bisa menjadikan aku manusia bahagia itu. Semoga saja. 

Dan dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti.
Kuharap masih ada sisa waktuku mempersiapkan apa yang perlu.
Untuknya, juga demi kita di tahun yang baru.