Karimun Jawa.

Perjalanan ke Karimun Jawa, seperti yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, berjalan sempurna di luar rencana. Laut membawaku jauh bertemu dengan kawan-kawan lama, dan juga seseorang yang sudah lama sekali tidak kulihat rupa dan raganya. Dia, kutemui disana. Dia yang akhirnya menuliskan beberapa catatan pendek agar aku dapat bernostalgia tentang bagaimana aku pernah sebebas angin, mengembara seorang diri, mempelajari hari dari satu titik menuju titik yang lain dalam setiap perjalananan... seperti dia. 

"Sudah Jalannya Aku Ketinggalan Pesawat Lagi"
Tawang Jaya, Gerbong 4A Ekonomi

Sudah jalannya aku ketinggalan pesawat lagi. Kali kesekian dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Melepaskan nyamannya penerbangan yang sudah dibeli jauh-jauh hari, paket nyaman serba instan yang mendapatkannya pun hanya cukup olahraga jari, gimnastik antar aplikasi, tak sampai satu menit untuk kelar urusan transaksi. Berusaha terikat dengan rencana seperti kebanyakkan orang, meskipun dalam hati aku tahu, kata 'rencana' dalam hidupku lebih sering jadi teori daripada realita. 

Tapi mungkin sudah jalannya aku harus ketinggalan pesawat lagi. Memutar haluan di pintu tol dan tidak jadi terbang. Berhenti mendongak ke atas, berpikir keras agar tetap bisa sampai tujuan. Untung-untungan terlintas jalan darat untuk jadi pilihan. Semarang, bukan kota yang tidak mungkin tidak bisa didatangi dengan kereta, bukan?

Pilihan, kali ini harus ditempuh dengan mencari tiket kelas apa saja di Stasiun Gambir. Alih-alih mendapatkan kursi di kelas bisnis, nasib berpihak baik dengan tawaran satu tiket terakhir kelas ekonomi yang justru berangkatnya dari Stasiun Senen. Hal ini tidak selesai sampai perkara beli tiket, karena aku masih harus tebak-tebakan tentang stasiun mana yang sebaiknya jadi tempat pemberhentian agar aku bisa tiba di titik yang dituju tepat waktu. 

Satu kursi di gerbong ekonomi yang akan berangkat sebentar lagi adalah landasan tempatku membelah malam. Di dalam gelap dan asingnya pemandangan gerbong ini, aku menyerahkan menit-menit kekhawatiranku tentang tempat yang aku tuju. Selain tungkai kaki yang nyeri dan punggung yang sedikit keram, syukur saja kantuk berbaik hati tidak sering-sering datang. Aku menggantungkan harapku pada semesta, berusaha meyakinkan diri bahwa kali ini, seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, waktu akan berpihak kepada jiwa-jiwa yang percaya. 


"Peron 20/20"
Semarang Poncol, 06.34

Baru kusadari ketika kakiku berdiri di dinginnya lantai peron ini. Telah kulewati panjangnya malam, juga teduh Subuh ketika azan berkumandang sayup-sayup di ponsel miskin sinyal. Telah aku lewati jingganya langit timur menjemput pagi. Telah aku dapati, bahwa hamparan pemandangan sawah bermandikan cahaya matahari dapat dinikmati dari celah jendela kamar mandi berbentuk persegi panjang yang tak pernah tertutup rapat di kereta ekonomi. Sampai disini, apalagi yang tak bisa kau syukuri?


"Kabarmu Disana"
Pelabuhan Karimun Jawa

Ada kabar yang perlu disampaikan, selalunya ketika menyeberangi lautan dengan ombak yang tinggi akhirnya terselesaikan. Dermaga masih melihat utuhmu yang tak tenggelam saat membelah jalan dengan kecepatan yang menggerus garis-garis lurus di luasnya samudera. Ada kabar yang perlu disampaikan, padanya yang menitipkan doa, yang mungkin terjaga dua kali lebih lama setiap kali kau melangkah keluar rumah. Dan kabarmu, adalah harap baginya di ujung sana. 

"Rip the earth in two with your mind, and seal the urge which ensues with brass wires. I never meant you any harm, but your tears feel warm as they fall on my forearms." – Mumford and Sons


"After all this time, after all of these season, after your own decision to go to the water for a reason... it's only the ocean and you. And all of this lines will all be erased soon. They go out with the tide and come back with the waves. It's only the ocean and you." – Jack Johnson


How rare one would get the last ticket to bound, if that's not for that one last chance to gather safe and sound?

Hanya satu kalimat itu, terketik rapi di sebuah folder tanpa judul di memori telepon genggam. Sebuah kalimat yang merangkum tujuan dari perjalanan ini. Untuk kembali menghargai kenangan, tentang waktu-waktu yang dilewati bersama, juga tentang persahabatan yang sempat tidak kupahami maknanya.

Karimun Jawa yang kulewati tidak semudah yang aku kira, tidak juga sesusah yang sering diceritakan oleh banyak orang – tentang ombaknya yang bergulung tinggi sehingga membuat banyak pengunjung yang datang berhalangan pulang. Meski tidak seperti yang direncanakan, namun waktu benar-benar berpihak pada jiwa yang percaya. Tiga hari dua malam, aku bertemu dengan kawan-kawan lama, dan juga dia... diriku dari masa lalu. Setelah semua yang terlewati hingga pertemuan yang terjadi, terbukti bahwa dalam pahit manisnya menjalani hari, semua akan baik-baik saja. 

Pelabuhan Kartini, Jepara, 2015.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.