Catatan Pesisir.

Akhirnya beberapa catatan pendek ini selesai juga. Sketsa selama berada di ujung selatan Sulawesi beberapa minggu lalu, ditulis acak di beberapa titik berbeda di sepanjang pesisir yang berhadapan langsung dengan luasnya Laut Flores. Berada di pinggir laut ternyata banyak memberi ruang, membuka banyak celah untuk pikiran berlalu lalang untuk sekedar bernostalgia dengan beragam rasa: sesuatu yang jarang ditemukan di tengah sibuknya kota. Catatan kali ini, semoga jadi awal dari banyaknya catatan perjalanan yang akan datang.    

#1: -5.562511, 120.193153
"Terlintas sesal di dalam benak, memenuhi dada hingga terasa sesak. Terkenang asa yang kini tak lagi tersisa, teringat cinta pernah tak sengaja terjebak. Bersembunyi kini aku di dalam kalut, di dalam kabut, di dalam takut. Terpasung kini kedua mata pada bayang tembus pandang, tentangku di suatu masa. Terjaga bersama kelam yang tak tenggelam, meski kulewati ratusan senja. Tersandera banyak tanda tanya, semenjak kau lepaskan keberanian itu dari cangkang yang menjaganya. Sesalku kini, adakah pantas kucari darimana asalnya?"

#2: -5.561624, 120.194151
"Terkecuali aku merindukanmu, tak akan sampai aku di ujung ombak biasa berlabuh. Terkecuali aku mencintaimu, tak pantas tertanam jari-jariku di tebalnya pasirmu. Terkecuali aku takut kehilanganmu, tak boleh aku mendekap bayangmu terlalu erat sehingga angin merampasmu karena cemburu. Terkecuali aku menjadi milikmu, tak perlu kutitipkan salam pada gulungan-gulungan yang menderu. Karena terkecuali aku bukan untukmu, mungkin tak akan tangan kiri ini bersilang mengikat tangan kananmu." 

#3: -5.545526, 120.214342
"Pesan yang kau sampaikan kuterima dengan baik di kedua telingaku. Kutimbang adil segala rima agar masuk menyerap tak jadi beban yang tak sama rata. Kubayangkan setiap khayalmu agar nyata suatu hari segala mimpi yang kau punya. Kutelan setiap nasehat, setiap aba, setiap amanat. Kubatinkan sedikit doa, semoga kelak, sempat kau lihat apa yang mungkin telah terpahat oleh tangan-tangan yang kau tangguhkan kepercayaan pada keduanya. Kupejamkan mata, kubenamkan ragu, kubiarkan rasa takut meraba. Memahat janji, untuk tak akan membuatmu kecewa." 

#4: -5.537795, 120.448961
"Siapa yang menyuruhmu merasa lebih luas dari samudera, sayang? Yang membiarkanmu merasa lebih berkuasa dari setiap penjaga yang membentang di setiap sudut bujur dan lintang, yang memintamu merasa lebih kuat dari palung dan kaki gunung? Apa yang membuatmu tak berkedip, tak bergetar, tak lagi merasa, bahkan ketika berdiri setiap bulu kudukmu di ujung karang? Belati mana yang membelah habis kepasrahanmu, membuatmu hanya bisa berburuk sangka bahkan ketika bahagia menantimu di depan mata? Luka mana yang tak kau biarkan sembuh, angkuh yang mana yang tak membuatmu luluh?

Majulah satu langkah lagi, temui aku, agar tak terlambat kuselamatkan jiwamu, sayang. Temui aku, rasa takutmu. Biarkan kedua matamu terpejam, biarkan merinding seluruh badan. Biarkan air matamu berbaur dengan ombak yang bercengkrama dengan karang. Jadilah titik air yang menguap, agar melebur seutuhnya keberanian itu tanpa kau paksa. Majulah satu langkah lagi, hilanglah kau bersama birunya laut tanpa batas. Bersamaku, rasa takutmu." 

#5: -5.6166102,120.4581999
"Tidak ada yang lebih menenangkan, selain perjalanan menyisir rindu di pesisir selatan. Kurindukan mereka yang tak lagi dapat bersentuhan badan, atau sekedar bertatap muka untuk saling memandang. Kurindukan jiwa-jiwa yang pernah berselisih jalan — saudara sedarah, keluarga besar, dan teman sepermainan. Teringat waktu tak akan pernah berhenti, tumbuh besar dengan kenangan, dan disinilah aku berdiri. Di tanah tempat semua cerita berasal, tempat dimana kesedihan hanya bisa dirayakan di dalam keheningan yang menenangkan. Di tanah ini, hanya laut yang punya kuasa mempertemukan aku dengan kasatnya rindu, kepada mereka yang telah berlalu." 

#6: -5.563979, 120.192102
"Berlayarlah jauh, bentangkan harapmu. Jangan kembali, sebelum puas kau berkelana, sebelum kau temui dirimu di salah satu dermaga dimana kedua layar itu membawamu. Temui setiap kepingan yang melengkapimu, membuatmu utuh, menjadikanmu rusuk yang mengukuhkan teluk. Nantikanlah saat luasnya laut kau bagi karena tiba saatmu mengabdi, melepas lelah, menikmati samudera yang lebih luas di dalam diri."

#7: -5.611117, 120.434430
"Tak sampai jarak pandangku memeluk setiap ujung-ujungnya. Tak dapat kutangkap gerak riaknya satu persatu, dalam waktu yang sama. Tersadar betapa kecilnya ruang dua senti yang meski telah tercipta sepasang, tetap tak menjadikan bentangan kanvas di hadapanku sempurna tanpa seizin-Mu. Terimakasih untuk selalu menuntun lupa pada ingatan tentang-Mu. Untuk selalu menuntun keberanian pada rasa takutku pada-Mu. Terimakasih untuk hangat yang menjalar di pori-pori, yang mengembalikan khawatir pada tenang yang mengakar. Terimakasih, untuk berada nyata dihadapanku, meski kedua mata ini terpejam dan logika hanya menggantungkan harap pada ujung imaji. Tapi damai ini, damai ini hanya hati yang bisa rasa. Meski hanya untuk hari ini, tak apa."  

Poros Bulukumba-Makassar, 2015.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.