Menjadi Opini.

Jika harus hidup di hari ini, bukankah lebih merdeka terlahir sebagai opini, sebagai persepsi? Bebas dari benar dan salah, bebas tertanam dan terbenam di kepala dan benak siapapun. Diperjuangkan bagi lidah yang menyampaikannya secara terbuka di segala bentuk media, dihempaskan semudah nafas tanpa rasa cemas dan takut. Kata 'terserah' dan 'kembali pada individu masing-masing' adalah zirah besi, harga mati, yang membiarkan opini dan persepsi bebas berlalu lalang. Tak heran, jika mereka yang mandul opini, tersiksa sendiri ketika dibungkam. Tak heran, mereka yang memilih tak beropini, mati kutu tak bisa melawan. 

Opini tercetus tak perlu kawan. Tak sakit hati ketika dilawan. Tak balik memaki ketika dicaci. Opini menjadi hidangan, yang bisa kita santap jika terasa sedap, atau kita biarkan membusuk karena tak lezat. 

Ini bukan soal 'kita' yang punya opini, tapi bagaimana kita memandang opini sebagai objek berjasad yang mendampingi rutinitas kita sehari-hari. Sebagai barisan kata yang menjadi jawaban atas segala pertanyaan, sebagai barisan yang menemani segala pertahanan. Sebagai pilihan, yang dipilih, oleh mereka yang memilih.

Jika harus hidup di hari ini, bukankan menjadi sebongkah opini lebih menjanjikan kebebasan daripada menjadi manusia yang beropini? Karena 'bayi-bayi' yang dikuras ke atas kertas dan kita namakan opini tak kenal penjara, tak kenal bui, tak seperti kita. Salah dan benar, opini tetap merdeka. Sementara aku dan kau masih berada di arena debat panjang yang tak kunjung usai. 

Adakah kau dengar di antara partikel karbondioksida kita yang beradu, suara renyah opini menertawakan kita?