Kuliner Sastra dan Rasa.

Aku baru saja pulang dari sebuah acara makan malam yang luar biasa nikmat, di atas atap terbuka dengan alas rumput dan tanaman merambat di setiap sisi dinding yang menjadikannya ruang cengkerama hangat di bawah langit Jakarta. Dan sudah tentu bukan hanya karena undangan itu membawa lidahku bertemu dengan panganan yang lezat, tapi juga karena disana jiwa mendapat mangkuk untuk menikmati potongan-potongan paragraf siap santap. Kata-kata, yang menjadi adonan beragam rasa di makan malam ini, tak pernah kurasa sedemikian sedap sebelumnya. 

Jika saja kau ada disini, makan malam seperti ini sudah pasti jadi makan malam kesukaanmu juga. Dan membatinkan hal itu di dalam hati telah menghadirkan kenangan tentangmu, tentang ritual kuliner kita. Itu mengapa aku tidak heran ketika tiba-tiba wajahmu muncul di tengah-tengah kerumunan tamu yang beriringan mengambil piring dan gelas untuk mencicipi setiap makanan yang berasal dari tulisan-tulisan beberapa penulis ternama yang selalu menjadi bahan ceritaku kepadamu. Ya, seperti makanan dan buku, malam ini menu yang tersedia adalah khas Nusantara yang pernah diracik dalam karya sastra kesukaan kita.

Seperti biasa, aku memulainya dengan mencari nasi, dan kau pun nampaknya setuju. Kita pernah sama-sama tahu, bahwa tanpa nasi, ritual 'makan' bukanlah makan yang sebenarnya. Sedikit saja, bisikmu padaku. Aku mengangguk dan menikmatinya berdua denganmu. 

NASI UDUK (Hamsad Rangkuti, 'Nyak Bedah', Bibir Dalam Pispot)
"Lalu saya pikir, apakah tetangga saya
para pembeli itu, tidak pernah menanak nasi untuk sarapan pagi mereka. Atau, barangkali, nasi uduk yang dijual Nyak Bedah sudah tidak bisa dilupakan para tetangga saya begitu mereka terjaga dari tidurnya." 

Kau bilang nasinya gurih, dan itu awal yang baik untuk makan malam ini, bukan? Matamu lalu bergerak lepas menuju menu selanjutnya yang tampaknya harus kita rasakan sendiri-sendiri. Tak apa, katamu, sembari memberitahuku bahwa Rujak Soto Banyuwangi dan Bihun Bebek Medan ini berasal dari dapur yang sama. 

BIHUN BEBEK MEDAN (Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya)
"Ia memang pantas nyolot, karena ini memang sudah hampir pukul sepuluh pagi, dan kwee cap, seperti halnya kwetiau dan bihun bebek di Medan adalah salah satu hidangan pagi yang setelah jam 10 pagi sering ludas." 

RUJAK SOTO BANYUWANGI (Laksmi Pamuntjak, Aruna dan Lidahnya)
"Dan pada saat itu mata Bono hanya bertumpu pada semangkuk rujak soto di hadapannya. Hmm, memang menarik. Menarik sekali. Coba, Run. Ada kacang kedelai, taoge, timun, kangkung, dan ini dia–kuahnya kuah babat..." 

Sungguh lezat, begitu katamu. Kedua bola mata di balik kacamata bingkai tebalmu itu pun terpejam mengaminkan apa yang kau katakan. Aku pun merasakan hal yang sama, meski bedanya aku tak punya reaksi seekspresif dirimu. Seketika kau membuka matamu, dan berdua kita sama-sama tahu (lagi), bahwa masih ada tempat untuk cicip-cicip selanjutnya. Makan apa lagi kita, tanyamu. Aku menuntunmu menuju menu selanjutnya. Makanan khas Sulawesi Utara, jawabku.

TINUTUAN, PISANG GORENG SAMBAL ROA, DABU-DABU
(Nukila Amal, Smokol)
Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan, niscaya berhalusinasi). 

Kau kepedasan, dan sepanjang yang aku ingat, perutmu terlalu rentan untuk menu ini. Tapi kucermati kau tampak menikmati. Mungkin karena pedas beradu dengan manisnya pisang goreng yang akhirnya kau ambil dua biji.

Haruskah kita berhenti, tanyaku. Kau bilang tak usah. Mari kita lanjut ke meja selanjutnya, begitu katamu, menuruti rasa penasaran yang lebih besar daripada... usus besar. Bottomless stomach, begitu canda kita sedari dulu kepada metabolisme masing-masing. 

Santan, hidup tak akan gurih tanpa santan. Aku percaya itu. Kau nampaknya juga tak mengelak, karena kulihat senyummu mengembang ketika dua penganan terakhir nampak akan melengkapi lontong dadu yang kini boleh menempati sisi piring dimana nasi uduk tadi sudah siap-siap jadi sari pati. Rasanya ingin tertawa, ketika tahu kau masing tetap semangat ikut aku mengantri di meja selanjutnya.

RENDANG PADANG (Leila S. Chudori, Pulang)
"...Yos melahap rendang tanpa ingin mengangkat wajahnya lagi. Daging rendang yang empuk itu lumer di lidahnya."

GULAI ANAM LAMPUNG (Leila S. Chudori, Pulang)
"Tanganku, Bahrum, dan Yazir tak henti-hentinya bergerak di meja racikan. Dari jendela dapur kami melihat ekspresi mereka. Ayam bakar, sate kambing, gulai anam, nasi padang, dan soto ayam menjadi hit malam ini." 

Biasanya kau akan menghela nafas sebelum sampai pada sajian utama terakhir. Dan tadi aku masih melihatmu demikian. Lama sekali rasanya kita tidak menyantap sajian bersama. Aku ingin mengajakmu rehat sebentar sebenarnya. Tapi kau seperti tidak bisa menahan semangkuk sop kacang merah-sekengkel dan perkedel isi daging. Lebih baik kuturuti, lagipula ini makanan terakhir sesi pertama. Jadi, sekalian hajar saja ya, begitu saranmu. 

SUP KACANG MERAH-SEKENGKEL & PERKEDEL ISI DAGING
(Umar Kayam, 'Menjelang Lebaran', Lebaran Di Karet, Di Karet)

"Hidangan buka puasa sore itu terdiri dari agar-agar dingin dengan sirup merah yang manis sekali, risoles dan es teh manis. Kemudian untuk makan malam sup kacang merah dengan daging sekengkel yang jadi kesenangan Kamil dan anak-anak ditambah dengan perkedel kentang dengan isian daging yang cukup tebal. Hanya dua macam lauk itu tetapi Sri sendiri yang sengaja memasaknya."  

Wajahmu membulat, menandakan raut kekenyangan yang samar-samar terekam di kepala. Selesai sudah menu utama ini masing-masing kita rasakan–kadang sendirian, kadang bergantian. Rindu sekali rasanya berbagi makanan denganmu, kawan. Meski lucu juga kurasa, karena aku kira lapar dan kenyang tak bisa kau rasakan lagi. 

Kita belum minum, sanggahku. Seketika aku bergegas mencari penawar dahaga, sementara kudengar kau bergumam tentang jamu dan kombinasi rasa. Aku tak ingat apakah kau suka jamu. Sepertinya seumur hidupku, aku belum pernah membahas tentang ini denganmu. Beras kencur atau temulawak? Kau bilang terserah. Ah, aku ambil dua gelas untuk masing-masing rasa. Supaya kau bisa pilih mana yang lebih kau suka nantinya. Meskipun pilihan tak lagi jadi masalah bagimu.

BERAS KENCUR DAN TEMULAWAK
(Umar Kayam, 'Parta Krama', Lebaran Di Karet, Di Karet)
"Hari-hari berikutnya adalah hari penantian jawaban yang menyesakkan napas Arjuan. Makanan tidak disantap, minuman beras kencur atau temulawak yang biasa disiapkan oleh para ahli makanan dan minuman Istana Madukara terasa tidak enak menyegarkan badan lagi."

Diantara jeda meregangkan perut, aku senang melihatmu berbaur di kerumunan, di bawah pendar lampu-lampu kecil yang digantung diagonal dari satu titik ke titik lainnya. Ingin sekali aku tanyakan apakah kau merindukan kehangatan seperti ini di duniamu yang baru. Tapi nampaknya aku tidak akan mungkin mendapatkan jawaban dari pertanyaan barusan. Ya, aku kalah cepat dengan ajakanmu untuk kembali beraksi. Dessert, please?

LEMANG TAPAI (Damhuri Muhammad, Lelaki Ragi dan Perempuan Santan)
"Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi paniaram, lepat pisang, atau limping rebus, dagangan emakmu yang lain. Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini, dalihmu. Selalu."

DODOL, KUE LAPIS, KELAPA MUDA
(Ahmad Tohari, Lintang Kemukus Dini Hari)
"Mertanakin tidak bohong. Sentika memang telah menyiapkan sambutan yang hampir berlebihan bagi rombongan Dukuh Paruk. Kopi segera keluar bersama dodol, kue lapis, dan ketan. Rokok dibagikan sebungkus tiap orang. Buahnya, pisang ambon dan salak. Bahkan juga kelapa muda."

Setelah sekian banyak penganan yang melewati kerongkongan, ternyata tak banyak kisah yang bisa kau ceritakan. Seperti lengangnya hampa, kau menghilang, setelah samar-samar wajah riang dan kenyangmu bergantian terpancar di redupnya teras atap ini. Angin semilir menyapu kehadiranmu dan aku kembali berdiri sendirian dengan piring dan gelas di antara para tamu yang masih lalu lalang mengambil makanan dari satu meja ke meja lain. 

Kau hadir dalam khayalan, karena rindu yang sekelebat menyusup masuk diantara aroma kuliner negeri ini yang mengilhami lahirnya kata demi kata. Dan aku tahu kita sama-sama jatuh cinta pada keduanya. Dimensi kini memisahkan aku dan kau, dan tibanya hari ini sudah ratusan hari sejak makan malam terakhir kita. Ya, sejak rencana-rencana tulisan yang berpantulan di dinding-dinding kepala terpaksa menguap kembali ke udara. 

Meski aku berimajinasi, terimakasih telah berkuliner sastra dan rasa bersamaku. Lapar raga dan jiwaku terbayar lunas dengan hadirmu. Sudah kubilang di awal kan, kalau aku baru saja pulang dari sebuah acara makan malam yang luar biasa nikmat? Di atas atap terbuka dengan alas rumput dan tanaman merambat di setiap sisi dinding yang menjadikannya ruang cengkerama hangat di bawah langit Jakarta. Tetap bersamamu. 

Selamat malam, kawan. Selamat kembali beristirahat. 

__

Teater Atap Galeri Salihara
Makan Malam Sastra @ Bienal Sastra Salihara 2015

In memoriam of Mita Diran,

'Kaki Makan' dan sahabat menulisku.