#KIP - MIQ V.

Hari Inspirasi itu akhirnya tiba. Bersama teman-teman dari beragam profesi di kelompok III Kelas Inspirasi Palembang angkatan pertama, saya akhirnya sampai di MI Quraniyah V yang terletak di Lorong Kebangkan 9 Ilir. Siswa-siswi SD terlihat berbaris rapih di halaman sekolah tanpa tiang bendera untuk upacara pagi. Sambutan selamat datang dari Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru dimulai pada pukul 7, diantara tajamnya sinar matahari yang baru saja naik. Setelah bertukar sambutan, para inspirator kemudian mengambil jadwalnya masing-masing dan mulai memasuki kelas-kelas di madrasah yang hanya menumpang di mushola wakaf milik orang setempat.

Saya ingat betul kelas pertama yang harus saya ajar pagi itu. Sebuah kelas yang letaknya di ujung anak tangga, dengan label kertas bertuliskan kelas 5. Entah apa yang ada di kepala saya saat itu, rasanya semua sapa dan bahasa keluar begitu saja dari mulut saya, yang dibalas dengan hangat oleh anak-anak itu. Setelah berkenalan satu persatu, saya kemudian mengenalkan diri, mengenalkan salah satu jenis profesi di dunia seni. Saya ingat betapa mereka semangat mengerubungi saya yang hanya berbekal potongan-potongan gambar tentang bentuk dan huruf yang saya perlihatkan melalui sebuah laptop. "Kami dak ado laptop, Bu!", yang kemudian membuat slide saya naik turun tidak beraturan karena mereka sibuk tekan tuts ini itu.

Setelah menjelaskan secara ringkas tentang huruf, saya tiba di sesi aktifitas. Bagian yang paling menyenangkan adalah ketika mereka mulai bisa mengikuti saya untuk berimajinasi, yang kemudian membuat mereka mulai melihat objek yang dibentuk dari rangkaian huruf, angka dan tanda baca. Karena ingin memperkenalkan seni tipografi sedini mungkin, rasanya pengalaman 'uji coba' kepada siswa-siswi ini terpecahkan dengan cara yang sederhana. Belum lagi melihat antusiasme mereka pada saat saya membagikan potongan karakter bawah laut. Perasaan saya campur aduk melihat mereka menggunting, menempel dan membentuk objek tanpa simulasi apa-apa sebelumnya. Thank God, this method works.  

Semangat yang saya dapatkan di kelas pertama terbawa pada kelas-kelas selanjutnya. Ketika saya harus mengajarkan hal yang sama di kelas 6, hasilnya sama baik, khayalan siswa-siswi itu sama lucunya. Namun pengalaman mengajar saya tidak semulus itu ketika harus menghadapi anak-anak kelas 3 dan 4. Meskipun metode belajarnya kali ini melalui mainan kertas A - Z dan lebih mudah karena hanya mengandalkan imajinasi dan cerita... namun mereka cenderung senang berkelahi di tengah-tengah simulasi. Saya menyaksikan sendiri di hari itu, seorang siswa memukul temannya sendiri, keras, berkali-kali. Dan sebagai seseorang yang sama sekali bukan guru, saya menyayangkan sikap saya yang terlambat melerai mereka. Meskipun akhirnya mereka berdua bisa saya damaikan, tapi rasanya saya tidak akan lupa nada amarah yang keluar dari mulut anak kecil yang baru berusia 9 tahun itu.

Lingkungan tempat tinggal dan sekolah mereka memang keras. Tidak bisa disalahkan kalau karakter, sifat dan cara pandang mereka berakar pada kondisi ekonomi keluarga masing-masing. Pengalaman ditempatkan di kondisi sekolah semacam ini membuat saya ingat bahwa pendidikan moral jauh lebih penting dari sekedar injeksi mata pelajaran sosial dan eksakta. Saya sadar betapa beratnya tanggungjawab seorang guru untuk memastikan ilmu dan kedisiplinan dapat tersampaikan dengan baik. Hari itu, saya banyak belajar dari setiap murid-murid yang saya temui. Kembali tersadar akan adanya kesederhanaan berpikir, ketakutan, impian, harapan dan cita-cita yang tumbuh meskipun kondisi dan situasinya jauh berbeda. 

Tidak terpikir sebelumnya untuk bisa terbang dan ditempatkan di lokasi baru, diberikan kesempatan mengajar 5 kelas untuk berimajinasi dengan huruf dan tanda baca sederhana, juga untuk mengingatkan mereka tentang pentingnya membaca. Ya, membaca. Sebuah hal yang selalu dianggap sekedar teori praktis bagi orang-orang apatis, yang mana sebenarnya adalah satu kunci penting untuk perkembangan psikis dan akademis anak-anak usia sekolah.

Memang di realita sebenarnya, kelak suatu hari nanti mereka akan menjadi apapun yang mereka mau, sesuai usaha untuk menentukan nasib masing-masing. Tapi paling tidak, pernah ada bekal yang bisa mereka ingat ketika mereka harus mengambil langkah.  

Saya ini masih jauh dari sempurna, jauh dari kata-kata "berguna" bagi orang banyak. Tapi saya juga punya mimpi untuk negeri ini, apapun profesi saya kini dan nanti. Meskipun amunisi di kepala saya hanyalah ide dan huruf, tapi siapa tahu, mereka bisa menjadi katalis bagi siapapun yang berhak atas kegunaannya.

Semoga saya masih diberi kesempatan serupa di lain tempat dan waktu, untuk kembali belajar dari 'guru-guru' cilik yang baru.