Untuk Waktu.

Ga pernah ada perasaan setegas itu ketika memutuskan untuk pulang ke Jakarta di pertengahan 2011 lalu. Badan ini kembali ke tanah air bersama cinta, mimpi, dan khayalan yang bisa dibilang hampir tidak mungkin bisa kesampaian. Pada prosesnya, cerita dan rencana boleh saling bertolak belakang, tapi kemantapan hati atas apapun yang membawa diri ini kembali ke rumah tidak lebih dari sebuah keyakinan yang menutupi banyak rasa takut.

Cinta, layaknya sebuah ide yang bernafas, berhasil menemani hanya sampai batas waktunya. Tapi tidak apa-apa, mencintai sedemikian rupa banyak mengajarkan untuk mengenal diri lebih dekat, sebelum dia melebur menjadi cerita. Lalu ada mimpi, yang berhasil keluar dari kepala setahun setelahnya dan menjadi sebuah ruangan konkrit yang kini berjalan dari hari ke hari mewujudkan cita-citanya sebagai Letterplatters. Sedangkan khayalan untuk bisa berbagi, akhirnya kesampaian tiga tahun setelahnya, ketika sebuah surat panggilan datang dari Kelas Inspirasi Palembang sore tadi. 

Mungkin benar, dalam hidup, kadang yang diperlukan hanya dua: YAKIN dan NEKAT. Entah bagaimana bergulatnya cerita dan rencana yang pernah ada di dalam kardus-kardus itu dalam perjalanannya dari Kuala Lumpur, biarkan saja sisanya menjadi urusan Yang Maha Kuasa.

Ketika satu persatu akhirnya terjadi di depan mata, menjalani masing-masing dengan sepenuh hati semoga tidak akan menjadikan cinta yang pernah ada, mimpi yang menjadi nyata, serta khayalan-khayalan itu berakhir sia-sia.

Perempuan kecil itu hanya bisa tersenyum, sambil mengarahkan telunjuknya ke langit. Terimakasih waktu, kau biarkan dia membuktikan kata-katanya kepadamu.