Rindu Ini.

"Ada jebak yang dititipkan pada setiap petak di kerangka pelindung otak, yang menjerat setiap kali aku melihatmu berusaha memalingkan muka dari tanya. Tanya yang disimpan rangka yang merekam detak tak menentu di dadaku setiap kali terucap namamu. Tanya tentang dimana kini kau bersembunyi ketika dini hari tiba, ketika angin tidak berhembus sekencang pagi atau malam dimana kau tegap terjaga. 

Ada isak yang tidak terdengar, juga rasa yang tertanggal di pojok ruang tempat aku melepas tanganmu, berpamitan pada suatu ketika. Ada yang berteriak memekakkan telinga, ketika kesunyian membawa suaramu yang pernah dibawa gelombang pecah di udara. Dan setiap kali asa menukik mencari jalan menghindari jeratmu, disitulah dia kembali mencari jejak yang kau tinggalkan di dalam jeruji pikirku. Tanpa sipir, terpenjara asa dalam gumam yang hanya dipahami kelam. 

Dalam bentangan batin tidak bertuan, genggam dan pejam ini bertaut pada bayangmu. Tepat saat kau pergi bersama gelap, bersama rintik hujan yang merdu menyapa atap tempatku menunggu lelap. Malam memang kembali menggulung petang, namun tidak jera juga waktu menahan kantuknya. Dan rindu ini, menyandera, karena ternyata masih tetap kamu yang punya."