Presiden Ketujuh.

Dukuh Atas, 03.15 sore.

Di bawah patung Sang Jenderal, catatan saku ini dimulai. Diganggu terik yang menyengat, kedua mata memandang jalan nadi ibukota yang baru saja dilewati oleh kaki-kaki yang mengarak Presiden terpilih dari gedung perwakilan rakyat menuju Istana Negara. Sisa-sisa riuh tersapu bersih sudah, namun tidak untuk gelora yang diselipkan pada angin yang berhembus ke titik pusat kota. Angin yang memanggil setiap mereka yang punya harapan baru untuk meneruskan langkah yang tersisa agar dapat berkumpul di Medan Merdeka.

Hari ini Presiden Ketujuh dilantik untuk mengemban amanat meneruskan kejayaan republik ini. Setiap mereka yang menaruh pilihan hati pada pemimpin terpilih merayakan harapan baru yang tumbuh, bersiap-siap untuk ikut bekerjasama, mengawal roda pemerintahan yang baru semampunya. Hari ini Presiden Ketujuh juga mengawali 'nguli' resminya menjadi pelayan bagi rakyat, bersama rakyat, didampingi rakyat. Dengan ajakan bergotong-royong sesuai fungsi, bersungguh-sungguh bekerja keras yang dimulai dari setiap pribadi, membuktikan bahwa negara ini masih berkesempatan dijaga oleh masing-masing individu yang mengabdikan diri dengan cara mereka sendiri.

Hormat Sang Jenderal di perbatasan tempat catatan saku ini dimulai bisa jadi simbolisasi hormat pada apapun yang akhirnya digariskan Tuhan untuk nasib bangsa ini. Hormat Sang Jenderal hari ini bisa jadi metafor dukungan pendiri bangsa pada warisan demokrasi. Ya, sebuah hormat yang pada kilometer berikutnya di Bundaran Hotel Indonesia disambut dengan sanjungan selamat datang untuk harapan baru oleh putera-puteri bangsa.

Seiring kaki melangkah menuju Monumen Nasional, ada doa dan harap yang disemat, cemas yang disimpan, juga sisa keyakinan untuk negeri yang dititipkan kepada Presiden Ketujuh. Meskipun tidak ada yang bisa menjamin akan keberhasilan pemerintahan baru, namun lahirnya harapan adalah satu-satunya kunci untuk tetap berdiri tegak dan percaya bahwa tanah tempat badan ini berdiri adalah medan merdekaku, medan merdekamu, dan medan merdeka kita dalam artian sebenarnya.

Monumen Nasional, 06.10 petang.

Teriring doa agar kelak amanat rakyat dapat kau pikul erat, Presiden Ketujuh. Bukan hal yang mudah menjadi nahkoda diatas kapal republik ini karena kau, seperti layaknya rakyatmu, juga hanyalah manusia biasa. Bukan tak mungkin segala cerca akan mewarnai hari-harimu, namun tidak berarti kau dan jajaran pendamping pilihanmu tidak bisa membenahi negeri ini menjadi lebih baik.

Rasanya menjadi rakyat yang memilih untuk tidak terjebak keruwetan skenario politik dan hanya punya bekal keyakinan dan harapan adalah pilihan yang terbaik. Rasanya menjadi rakyat yang memilih untuk ikut bersih-bersih, menjadi pengawal pemerintahanmu adalah pilihan yang tidak merugikan. Lakukan saja apa yang perlu kau lakukan dengan caramu, Pak Presiden. Adanya orang-orang baik disekitarmu yang rela menjadi pagar bagi rakyat, semoga kelak juga bisa menjadi pagar tempatmu ikut berkiblat saat kau merasa hilang arah.

Di bawah tugu peringatan yang menjulang gagah 433 kaki di atas tanah, aku berdiri dan mengakhiri catatan saku ini. Selamat bekerja keras untuk 5 tahun kedepan, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Terimakasih kepada para teman-teman relawan, karena kerja keras kalian mengantarkan pemimpin bangsa terpilih tidak hanya menumbuhkan semangat baru tentang demokrasi kebangsaan di hati, namun juga menggugurkan apatis yang hampir membuat kami lupa untuk berjuang bersama menjaga Indonesia.