On Being Particular.

"Those who get to know me a little bit closer might be aware on how particular I am. I am very particular with the past, and I couldn't get any better than letting them passed. I am very particular with one's facial expression, one's pretentious smile, one's familiar gesture that I found spreading too much power. I am very particular with the women you remember, once you've loved and hoped things could lasted forever. I am very particular with colors and shapes, one that allies with white lies, or any other shades that covering both of your sleepy eyes. I am very particular with us — not that you know, not that you understand, not that you care. But I am very particular on that, on how you bid goodbye, and how particular things float in the sky as if none of us matter anymore."

(2017)

Please, Be Ready.

If there’s anything that I would like to address to my dear self, I would go by telling her to clear out the intention of her decision of leaving. As the leader of herself, I would highlight the best and the worst of her so that she knows the quality that she could use when she embarks into the near future — aside from the unnecessary traits that might burn her bridges. I would tell her to be careful of the freedom, for it comes with consequences and she gotta be ready to bear each of them. But also, I would tell her to be brave and never fear the risk of failing. Because at some point failure is the best teacher and nothing else does it better.

Be persistent, my dear. I love you enough to let you rise in the morning thinking of what alphabet to draw or what’s swinging on your random creative string. I imagine you wake up early and fueling your energy at your bamboo backyard, letting the nature to take charge of your inner spring. I would like to see you dedicate your time to what makes you happier and stronger, so people around you would get energized as much as you do. I would like to see you fall in love in the spread of new possibilities, new thoughts, better artworks, and be acknowledge of something you ace for.

I would love to be you, immerse within you, intertwined into someone who never stop learning and always be ready to expand organically because of your passion that grows forever in you. I wish the day will come sooner for you to embrace. And when the time comes, please be ready.  

Menyuluh Tigapuluh.

Selamat malam, Alam Raya.

Semoga tidak terlambat menyambut tahun baru di bulan ketiga. Terlalu banyak hal yang pelan-pelan datang, pertemuan-pertemuan, juga semangat baru yang merasuki ruang diri sehingga rasanya waktu berlalu cukup cepat dan aku masih belum sempat menyapamu sampai hari ini. 

Terimakasih karena membiarkan tahun ini dimulai dengan energi yang baik. Terimakasih sudah membekali tahun ini dengan benih-benih harapan bahwa bertambahnya usia adalah pagar yang menjaga diri dan mengingatkan lagi tentang banyak mimpi. Rasanya banyak sekali kemudahan dan campur tangan Tuhan yang harus disyukuri selama beberapa tahun terakhir, terutama dalam rangka menyuluh tigapuluh—usiaku yang baru.

Terimakasih untuk tenang yang Kau berikan seiring waktu. Mengizinkan masalah yang lama mendekam di jagat fikir diselesaikan oleh organ-organ tubuh yang dibenahi secara perlahan-lahan. Membiarkan rasa takut melebur, keberanian tumbuh subur, juga khawatir yang kini mampu diatur. Entah berapa banyak pinta yang aku lambungkan ke udara dan Kau tunjukkan kuasa-Mu akan jawaban yang perlu aku tahu untuk jelas terlihat di depan mata. 

Aku berhutang banyak sekali untuk terbukanya jalan-Mu atas rencana-rencana yang pernah dituliskan. Kadang tak mampu kepala menarik benang merah atas segala kejadian, dan hati hanya akan tenang ketika menyadari ada cinta-Mu di setiap penghubungnya. Harapku semoga cinta itu menemani setiap langkahku menuju seberang.

Ya, menyeberang dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dalam usaha menyempitkan ruang gerak, namun meluaskan semesta.
Juga mensyukuri segala nikmat-Mu yang tiada terkira.

Selamat malam, Alam Raya. 
Kuharap kau akan terus membiarkanku membaca pertanda. 

At Dusk.

I love to sneak in to my editor's room just to get this view from above, because there's no better side to see the sunset other than this corner. Dec 29, however, remarks the last day of work this year. Other colleagues has already gone for holiday, so office is pretty empty today. I come in today to wrap some works left to be done and do a little catch up with the team before we embark together again, hopefully safe and sound, next year.

P_20161229_182155.jpg

It's pretty upside down here and there, but days spent in this aquarium has been a meaningful ride. Learnt new things, improved some, let go of other stuffs. It's been a great journey with the team, but just like any other journey, I wish this one would lead me to better destination. Let's see where the road heads me up onwards.

Till then, stay awesome.
Have a pleasant break! 

Aku dan Dia di Tahun Baru.

Dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Ribuan jam yang berlalu di tahun ini terisi banyak cerita. Salah satunya tentang aku dan dia. Dia yang kembali percaya bahwa mimpi nyata adanya. Bahwa harap adalah milik siapa saja. Dia yang kembali menata hati, menuliskan ulang prioritas-prioritas, membuat keputusan dan merubah apa yang perlu. Dia yang kembali bercengkerama dengan dirinya sendiri setelah sekian lama hilang bersamaku di kerumunan yang asing.

Dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Tahun depan menjadi tahun ganjil yang menggenapkan usia, menjadikannya sebuah gerbang baru untuk banyak rencana dan cita-cita sederhana untuk aku dan dia. Dia yang ingin menjalani hidup dalam ritme, tak lagi tergesa-gesa. Dia yang tak ingin lagi terjebak lama dalam rutinitas kota. Dia yang hanya ingin bangun dan tidur dalam ruang yang sama, menyempitkan bidangnya namun meluaskan semesta. Dia yang ingin tak ada sesak di rongga dada setiap lelah menyerangnya. Hidup lebih sehat, juga menjalani hari lebih baik. Satu demi satu, dia hanya ingin menuntunku menjadi aku yang baru.

Aku tidak tahu sejauh apa dia bisa membebaskanku untuk meraih segala kesempatan dan percaya pada keajaiban. Aku tidak tahu pula sekuat apa dia bisa mendamaikanku dengan masa lalu dan membuatku menatap masa depan seutuh harapan yang dibentuk oleh kepingan-kepingan asa. Tapi aku memilih untuk menaruh harapku padanya, senantiasa berbaik sangka bahwa aku bisa jadi lebih baik bersamanya di bagian cerita baru kita berdua.

Ah, dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Begitu banyak kisah yang aku syukuri di tahun ini dan kuharap dia bisa merasakan hal yang lebih baik di tahun berikutnya. Begitu banyak pula pelajaran yang aku simpan untuknya sebagai bekal di kemudian hari. Agar yang buruk tak terulang. Agar yang baik tetap terjaga. Meskipun hidup beririsan dengan banyak sekali ketidaksempurnaan, namun bagiku, segala sesuatu tetap bisa jadi sempurna dengannya.

Saat menuliskan tulisan ini, kondisi fisikku sedang berada dalam titik yang kurang baik. Terbaring hampir seharian menahan apa yang dirasa oleh badan. Sebuah pelajaran di tahun ini bahwa aku dan dia kerap melupakan apa yang merekatkan kami berdua. Sehat kini menjadi yang kami dambakan. Lelah tak seharusnya melemahkan. Letih tak seharusnya melumpuhkan. 

Aku dan dia adalah kesatuan dalam tubuh. Dan semua rencana di kemudian hari tak akan berarti tanpa sehat yang menjadi sebaik-baiknya alat. Maka ini yang ingin aku benahi sesegera mungkin demi dia. Demi dia yang kupercaya bisa menjadikan aku manusia bahagia itu. Semoga saja. 

Dan dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti.
Kuharap masih ada sisa waktuku mempersiapkan apa yang perlu.
Untuknya, juga demi kita di tahun yang baru.

Di Setiap Antara.

Di hadapanku terbentang hijau yang memanjang dari satu sisi ke sisi satunya, dimana kelokan anak tangga antara satu pura ke pura lainnya bersembunyi di setiap antara. Suara air yang mengalir deras tercampur dengan desis dedaunan, terkadang ramai kurasa, namun lebih sering sepi menyusup di setiap antara. 

Di setiap antara, terkadang tak mengerti mengapa tanya dan jawab menyatukan aku dan kau yang berseberangan arah pikiran. Di setiap antara, sering tak kupahami bagaimana mimpi bermuara dalam tidur dan berulang menghantui sampai lenyap aku di dalamnya. Di setiap antara, aku ingin hilang bersamamu, bersama pendapatmu, bersama lika-likumu yang mudah kutebak arahnya. Tersesat di hatimu, menemukan diri dalam kalutku. 

Di setiap antara, tak perlu takut, katamu. Dan hijau yang ada di hadapanku seperti mengerti, sehingga disiapkannya ruang untukku kembali menapaki apa yang sebenernya diinginkan diri. Menyepi di sudutmu. Terjaga di lintang dimensi. Biarkan aku berdiri di setiap antara... ada dan tiada, tetap bersamamu. 

Ubud, 2016.